KDMP: Mau Bangun Koperasi atau Menjalankan Misi Rahasia Negara?

Jujur saja, saya masih belum paham. Model bisnis seperti apa yang nantinya dijalankan oleh para manajer KDMP sampai proses pelatihannya terdengar begitu berat. Apalagi ketika muncul kabar ada peserta yang meninggal saat mengikuti pelatihan. Ini tentu menjadi pertanyaan yang wajar bagi masyarakat.

Kalau memang tugasnya mengelola koperasi desa dan membangun ekonomi masyarakat, bukankah pelatihannya cukup berfokus pada kepemimpinan, manajemen, kewirausahaan, tata kelola organisasi, pelayanan publik, serta kemampuan menyelesaikan masalah?

Toh perusahaan sebesar Alfamart atau Indomaret yang mengelola ribuan gerai di seluruh Indonesia tidak pernah terdengar ada calon pegawai yang meninggal saat menjalani training.

Lalu, sebenarnya standar seperti apa yang sedang dibangun?

Atau jangan-jangan memang ada misi besar yang belum dipahami masyarakat. Siapa tahu para manajer KDMP nantinya bukan hanya mengurus koperasi dan ekonomi desa, tetapi juga dipersiapkan untuk tugas-tugas yang jauh lebih strategis. Mungkin menjadi garda terdepan menjaga kedaulatan negara, pasukan cadangan ketika kondisi darurat, agen yang mampu membaca potensi ancaman di tengah masyarakat, atau bahkan memiliki kemampuan khusus yang belum diumumkan ke publik.

Bisa juga mereka diproyeksikan menjadi sosok serba bisa: pagi mengurus laporan keuangan koperasi, siang memberdayakan UMKM, sore menjaga stabilitas nasional, malam siap menjalankan misi negara. Kalau memang seperti itu, mungkin pelatihannya memang harus seberat latihan pasukan khusus.

Tentu kalimat di atas hanyalah satire. Karena kalau melihat tugas resminya sebagai pengelola koperasi desa, rasanya sulit dipahami mengapa pelatihannya harus sampai berisiko menghilangkan nyawa.

Generasi muda hari ini bukan generasi yang anti terhadap pemerintah. Kami hanya ingin setiap kebijakan dijalankan secara profesional, transparan, dan menjunjung tinggi keselamatan manusia.

Bertanya bukan berarti melawan. Mengkritik bukan berarti membenci. Justru pertanyaan dan kritik adalah bentuk kepedulian agar sebuah program bisa berjalan lebih baik.

Kalau memang KDMP adalah program besar untuk memperkuat ekonomi desa, tentu kita semua ingin mendukung. Namun dukungan akan jauh lebih kuat jika disertai keterbukaan, evaluasi, dan jaminan bahwa tidak ada lagi peserta yang menjadi korban dalam proses pelatihan.

Karena pada akhirnya, keberhasilan sebuah program tidak hanya diukur dari target yang tercapai, tetapi juga dari bagaimana negara menjaga setiap nyawa yang terlibat di dalamnya. 

Mereka mendaftar bukan untuk berperang. Mereka datang dengan mimpi sederhana: mengabdi, membangun koperasi desa, dan menjadi bagian dari upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Namun takdir berkata lain.

Awalnya satu kabar duka datang. Lalu bertambah menjadi dua, tiga, empat, hingga kini lima calon Manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih dilaporkan meninggal dunia saat mengikuti Latihan Dasar Militer (Latsarmil).

Mereka adalah:

Yonanda Muhammad Taufiq, akibat cardiac arrest.
Anisa Muyassaroh, akibat heat stroke.
Novia Rahmadhani Sihotang, akibat komplikasi tuberkulosis (TB).
Muhammad Rifki Renaldi Gunawan.
Nola Dya Sari, akibat sesak napas disertai demam tinggi.

Di sisi lain, sebanyak 32 peserta juga dipulangkan karena diketahui sedang hamil. Semua tentu telah ditangani sesuai prosedur yang berlaku. Namun bagi keluarga yang kehilangan, tidak ada prosedur yang mampu menggantikan sosok anak, saudara, pasangan, atau orang tua yang telah pergi untuk selamanya.

Setiap nama dalam daftar itu bukan sekadar angka statistik. Mereka memiliki keluarga yang menunggu kepulangan, orang tua yang menyimpan harapan, serta mimpi-mimpi yang belum sempat diwujudkan.

Tidak ada yang meragukan bahwa tujuan Latsarmil adalah membentuk disiplin, kepemimpinan, nasionalisme, dan semangat pengabdian. Nilai-nilai itu sangat baik. Namun ketika jumlah korban terus bertambah, evaluasi menyeluruh menjadi sebuah keharusan, bukan sekadar pilihan.

Apakah kondisi kesehatan peserta telah disaring secara optimal? Apakah metode pelatihan telah disesuaikan dengan karakter dan tugas calon manajer koperasi? Apakah standar latihan sudah proporsional dengan tanggung jawab jabatan yang akan mereka emban?

Pertanyaan-pertanyaan itu muncul bukan karena ingin menyalahkan siapa pun, melainkan karena kita tidak ingin kehilangan nyawa berikutnya.

Jangan sampai program yang dibangun untuk menyejahterakan masyarakat justru diawali dengan duka bagi keluarga-keluarga yang ditinggalkan.

Semoga lima insan terbaik yang telah berpulang mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa, diampuni segala khilafnya, diterima seluruh amal baiknya, dan keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan, kesabaran, serta ketabahan.

Dan semoga pemerintah melakukan evaluasi secara menyeluruh agar program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih dapat terus berjalan dengan baik, tanpa harus dibayar dengan kehilangan nyawa mereka yang ingin mengabdi.

Karena sebesar apa pun sebuah program, tidak ada yang lebih berharga daripada keselamatan manusia.

Berry Kurniawan – Dewan Pembina Generasi Muda Indonesia Raya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *