Ada fase dalam hidup ketika kita merasa sesuatu itu “hak kita”… tapi justru berada di tangan orang lain. Entah itu rezeki, kesempatan, jabatan, atau bahkan penghargaan. Di titik itu, hati mudah gelisah karena merasa tertunda, bahkan terasa tidak adil.
Namun di situlah makna sabar diuji. Sabar bukan sekadar diam tanpa rasa, tapi kemampuan menahan diri dari keluh kesah, menjaga hati tetap tenang, dan tidak melampaui batas dalam sikap maupun ucapan . Sabar adalah kekuatan untuk tetap berjalan benar, meski hasil belum berpihak.
Kadang kita lupa, bahwa tidak semua yang “terlihat milik kita” memang ditakdirkan untuk kita saat itu. Bisa jadi Allah sedang menunda, bukan menolak. Bisa jadi yang kita kejar belum baik waktunya. Sabar mengajarkan kita untuk percaya: apa yang menjadi hak kita, tidak akan tertukar dan yang bukan milik kita, tidak akan bisa dipaksa tinggal.
Maka bersabar ketika hak ada di tangan orang lain bukan berarti lemah. Itu justru tanda kedewasaan iman. Kita tidak perlu merebut, tidak perlu iri, tidak perlu putus asa. Cukup perbaiki diri, luruskan niat, dan terus melangkah. Karena pada akhirnya, yang benar-benar menjadi milik kita… akan datang dengan cara yang tidak pernah kita sangka.




Leave a Reply