Jika melihat sosok Yassierli, dia tuh bukan tipe menteri yang full politisi, tapi lebih ke “profesor yang turun ke lapangan”. Background-nya dari teknik industri bikin cara mikirnya rapi, sistematis, dan pastinya berbasis data. Jadi kebijakan yang dia dorong bukan sekadar angka serapan tenaga kerja, tapi lebih ke gimana manusia itu jadi pusat produktivitas alias people-centered policy. Simpelnya: bukan cuma bikin orang kerja, tapi bikin orang jadi lebih “bernilai” di dunia kerja.
Dari sisi makro, arah kebijakannya juga keliatan jelas: ngebangun ekosistem kerja yang lebih siap masa depan. Fokusnya bukan cuma buka lapangan kerja, tapi juga nyiapin skill yang relevan sama industri. Salah satu langkah konkretnya itu program pelatihan vokasi nasional yang ditargetin bisa menjangkau sekitar 70 ribu peserta di 2026 biar siap langsung masuk dunia kerja . Ini sejalan banget sama teori ekonomi modern kalau kualitas SDM naik, daya saing negara ikut naik.
Masuk ke level mikro, cara mainnya juga cukup beda. Dia sadar dunia kerja sekarang lagi berubah cepat karena digitalisasi dan AI. Jadi fokusnya bukan lagi “yang penting kerja”, tapi “lo punya skill apa?”. Makanya dorongan ke pelatihan berbasis industri, link and match, sampai model project-based learning itu jadi kunci . Intinya, tenaga kerja Indonesia nggak boleh cuma jadi penonton, tapi harus siap jadi pemain di era baru.
Dari sisi perlindungan sosial juga nggak ditinggal. Pendekatannya tetap balance antara produktivitas dan kesejahteraan. Ada kebijakan yang nyentuh pekerja informal, pelatihan gratis, sampai jaminan sosial buat peserta pelatihan vokasi biar mereka aman dan bisa fokus upgrade diri . Ini penting banget, karena realitanya sebagian besar tenaga kerja Indonesia masih ada di sektor informal.
Kalau ditarik garis besar, gaya Yassierli ini kombinasi antara “otak akademisi” dan “aksi praktisi”. Dia nggak cuma ngomong teori, tapi juga bikin sistem biar tenaga kerja Indonesia bisa naik kelas. Narasinya juga berubah: dari sekadar cari kerja → jadi punya skill → jadi kompetitif global. Kalau konsisten dijalanin, ini bisa jadi salah satu kunci Indonesia buat manfaatin bonus demografi dan nggak cuma jadi penonton di ekonomi dunia, tapi ikut main di level global.
Sumber :
Pada Peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day 2026 Jakarta, di Lapangan Monas, Jumat (1/5/2026) menjadi momentum Presiden Prabowo Subianto untuk mengumumkan beberapa kebijakan yang disebut sebagai “kado” bagi kaum pekerja. Mulai dari perlindungan pengemudi ojek online (ojol), pembentukan satgas PHK, hingga pengesahan Undang-Undang Perlindungan Pekerja Rumah Tangga (PPRT). Mari kawal janji atau kebijakan yang sudah disampaikan !






Leave a Reply