Hari ini mahasiswa nggak bisa lagi cuma mikir, “yang penting kuliah, lulus, terus cari kerja.”
Karena realitanya, lapangan kerja makin sempit, persaingan makin ketat, dan masalah sosial di sekitar kita juga makin banyak. Ada pengangguran, UMKM susah naik kelas, petani belum sejahtera, anak muda bingung mulai usaha dari mana. Nah, di sinilah mahasiswa harus mulai belajar bisnis. Tapi belajar bisnisnya bukan sekadar jualan atau cari untung, melainkan belajar jadi pencipta solusi dan pembangun masa depan.
Makanya mahasiswa butuh sebuah career path belajar bisnis yang nggak asal-asalan. Jalurnya harus jelas: mulai dari sociopreneur, lanjut cooperativepreneur, lalu naik ke policypreneur. Ini bukan cuma keren secara istilah, tapi ini adalah tahapan bagaimana mahasiswa bisa tumbuh dari orang yang peduli masalah, jadi orang yang bisa bangun usaha, sampai jadi orang yang bisa mengubah sistem.
Pertama, mahasiswa harus mulai dari Sociopreneur
Sociopreneur itu simpel: mahasiswa belajar bikin usaha yang bukan cuma mikirin uang, tapi juga mikirin manfaat sosial. Jadi saat lihat masalah di masyarakat, mahasiswa nggak cuma ngeluh atau bikin status di media sosial, tapi mikir, “gimana caranya masalah ini bisa jadi peluang solusi?”
Misalnya lihat petani kopi susah jual hasil panen, mahasiswa bantu branding dan jual online.
Lihat sampah numpuk, mahasiswa bikin bisnis daur ulang.
Lihat ibu-ibu UMKM nggak paham digital marketing, mahasiswa bikin jasa pendampingan.
Dari sini mahasiswa belajar bahwa bisnis itu bukan cuma transaksi, tapi alat pemberdayaan. Kita jadi paham riset pasar, promosi, teamwork, ngatur keuangan, ngomong sama konsumen tapi yang paling penting, kita belajar punya rasa peduli. Jadi bisnis punya hati.
Karena jujur, bisnis yang paling kuat itu bukan yang cuma menghasilkan cuan, tapi yang bikin orang lain ikut tumbuh.
Kedua, setelah bisa jalan sendiri, mahasiswa harus naik kelas jadi Cooperativepreneur
Masalah banyak anak muda hari ini adalah semangat usahanya besar, tapi jalannya sendirian. Akhirnya capek sendiri, modal kurang, jaringan sempit, lalu usahanya berhenti di tengah jalan.
Nah di sinilah mahasiswa harus belajar jadi cooperativepreneur. Artinya bukan cuma jago usaha, tapi jago bangun kolaborasi. Mahasiswa mulai paham bahwa kalau banyak orang disatukan dalam satu sistem ekonomi, hasilnya jauh lebih kuat.
Contohnya, mahasiswa bisa bikin koperasi digital anak muda, koperasi produk kreatif, koperasi pangan kampus, atau wadah bersama buat bantu UMKM binaan. Jadi keuntungan nggak dinikmati satu orang, tapi dibagi dan dirasakan bareng-bareng.
Di tahap ini mahasiswa belajar bahwa sukses itu nggak selalu soal jadi bos sendirian. Kadang justru sukses terbesar lahir dari gotong royong.
Dan ini cocok banget sama karakter Indonesia: kita kuat kalau bersama.
Ketiga, mahasiswa jangan berhenti di bisnis, tapi harus berani jadi Policypreneur
Nah ini level tertinggi. Karena sering kali usaha bagus pun mentok gara-gara aturan. UMKM susah izin, koperasi ribet legalitas, akses modal sempit, pasar dikuasai pemain besar. Artinya apa? Kadang masalahnya bukan di ide bisnis, tapi di sistem.
Makanya mahasiswa nggak cukup cuma jadi pelaku usaha. Mahasiswa harus jadi policypreneur, yaitu generasi yang paham cara mendorong kebijakan.
Mahasiswa mulai belajar bikin riset, bikin naskah gagasan, audiensi dengan pemerintah, kasih masukan regulasi, dorong program kampus kewirausahaan, sampai mengusulkan kebijakan yang pro anak muda dan pro rakyat kecil.
Jadi mahasiswa bukan cuma jual produk, tapi juga ikut menentukan arah perubahan.
Keren nggak?
Dari yang awalnya cuma bantu satu UMKM, lama-lama bisa bantu satu kota lewat kebijakan.
Kenapa Career Path Ini Penting Banget?
Karena kita butuh mahasiswa yang nggak cuma pintar teori di kelas, tapi juga ngerti realita lapangan. Kita butuh mahasiswa yang bukan cuma sibuk cari IPK, tapi juga sibuk cari solusi.
Kalau mahasiswa belajar lewat jalur ini:
- jadi sociopreneur, dia belajar peduli dan kreatif,
- jadi cooperativepreneur, dia belajar kerja sama dan bangun sistem,
- jadi policypreneur, dia belajar mempengaruhi perubahan besar.
Artinya mahasiswa tumbuh pelan-pelan:
dari problem finder jadi problem solver,
dari job seeker jadi job creator,
dan dari aktivis kampus jadi arsitek ekonomi rakyat.
dan dari aktivis kampus jadi arsitek ekonomi rakyat.
Berry Kurniawan – Ketua Dewan Pembina Generasi Muda Indonesia Raya
PROGRAM CSR PT KARYA HATI INDONESIA UNTUK MAHASISWA , FOTO DIATAS KERJASAMA DENGAN HIPMI Perguruan Tinggi
https://www.instagram.com/satu.hatea/
Berbagi Informasi :
Wakaf Produktif: Jalan Generasi Muda Menuju Kemandirian Ekonomi – BangunUMKM #1 – berry kurniawan
SimplePoSID — Aplikasi Kasir Online & POS Terbaik untuk UMKM Indonesia

SOUNBOX UMKM




Leave a Reply