Bersatu dalam Ukhuwah untuk Keadilan dan Perdamaian

Halal bihalal ini momentum kita untuk “reset hati” sekaligus “recharge komitmen” sebagai umat bahwa Islam itu bukan hanya soal ibadah personal, tapi juga tentang membangun keadilan dan persatuan.

Dalam momentum Halal Bihalal 1447 H yang digelar oleh Majelis Ulama Indonesia bersama ormas-ormas Islam pendiri, lahir 10 poin taujihat yang bukan sekadar seruan, tapi arah gerak umat ke depan. Intinya sederhana tapi dalam: umat harus bersatu dalam ukhuwah, untuk menghadirkan keadilan dan perdamaian, bukan hanya di Indonesia tapi juga dunia.

Kalau ditarik ke landasan Al-Qur’an, sebenarnya pesan ini sangat kuat. Allah sudah mengingatkan dalam QS. Al-Hujurat ayat 10: “Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara.” Artinya ukhuwah itu bukan pilihan tapi kewajiban. Bahkan dalam QS. An-Nisa ayat 135, kita diperintahkan untuk berdiri tegak dalam keadilan, walaupun terhadap diri sendiri.

di sinilah relevansinya dengan taujihat MUI: ukhuwah tanpa keadilan itu rapuh, dan keadilan tanpa persatuan itu sulit terwujud.

Secara ilmiah, konsep ini juga selaras dengan teori social cohesion (kohesi sosial). Dalam kajian sosiologi, masyarakat yang punya rasa persaudaraan kuat (trust dan solidarity tinggi) cenderung lebih stabil, minim konflik, dan lebih mudah mencapai keadilan sosial. Jadi, ukhuwah bukan hanya konsep agama, tapi juga kebutuhan sosial yang terbukti secara akademik.

Menariknya, dalam taujihat tersebut juga ditekankan bahwa umat manusia punya tanggung jawab bersama (mas’uliyah insaniyah) untuk melawan kezaliman dan menghentikan konflik serta peperangan.
Ini menunjukkan bahwa ukhuwah yang dimaksud bukan cuma ukhuwah Islamiyah, tapi juga ukhuwah insaniyah persaudaraan kemanusiaan lintas batas.

Di titik ini, kita bisa melihat bahwa Halal Bihalal bukan hanya acara seremonial di hotel atau forum formal. Ini adalah “ruang konsolidasi umat”. Tempat di mana perbedaan ormas, latar belakang, bahkan cara pandang, dilebur dalam satu tujuan:
menjaga persatuan, menegakkan keadilan, menghadirkan Islam sebagai rahmat bagi semua

Karena jujur saja, tantangan umat hari ini bukan cuma soal ibadah, tapi juga soal perpecahan, hoaks, polarisasi, bahkan konflik global yang menyentuh rasa keadilan kita sebagai Muslim.

Makanya, semangat “Bersatu dalam Ukhuwah untuk Keadilan dan Perdamaian Dunia” bukan slogan kosong. Ini adalah panggilan zaman.

halal bihalal ini mengingatkan kita satu hal penting:
Kalau umat mau kuat, jangan sibuk memperbesar perbedaan.
Tapi perkuat persaudaraan, dan bergerak bersama untuk keadilan dan perdamiaan.

Karena Islam itu indah saat bersatu, dan kuat saat adil.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *