Isu soal kapal minyak Pertamina yang kabarnya dipersulit lewat Selat Hormuz oleh Iran yang bahkan disebut dikawal Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) lagi ramai dibahas. Ditambah lagi, orang-orang mulai mengungkit kejadian tahun 2023 waktu Indonesia menahan kapal tanker Iran, MT Arman 114. Jadinya seperti ada narasi yang sengaja “mengadu” Indonesia dengan Iran. Entah ini kebetulan atau memang ada kepentingan tertentu.
Kalau dipikir-pikir, Indonesia sebenarnya nggak perlu terlalu reaktif. Kita beli minyak pakai dengan uang sendiri, bukan minta gratis. Jadi opsi paling realistis ya cari jalur atau sumber lain yang lebih aman, tanpa harus bergantung pada Selat Hormuz. Dunia ini luas, pemasok minyak juga banyak.
Memang harus diakui, posisi Iran di Timur Tengah lagi cukup kuat. Mereka berani tampil tegas, bahkan terkesan percaya diri dalam menghadapi negara besar seperti Amerika Serikat dan Israel. Tapi bukan berarti Indonesia harus ikut terbawa arus atau merasa “kalah posisi”.
Soal isu Indonesia dianggap dekat dengan blok tertentu misalnya BOP kebijakan yang digagas Donald Trump itu juga nggak bisa dijadikan alasan untuk memperkeruh hubungan. Hubungan internasional itu dinamis, bukan hitam-putih.
Masalah lelang kapal MT Arman 114 juga sebenarnya lebih ke penegakan hukum dan aturan maritim. Jadi seharusnya nggak perlu dibawa ke ranah emosional atau “balas dendam” antarnegara.
Nah, di sinilah Indonesia seharusnya main cerdas. Kita ini negara maritim besar, punya posisi strategis di jalur perdagangan dunia, terutama di Selat Malaka. Harusnya Indonesia bisa benar-benar memainkan peran sebagai poros maritim dunia bukan cuma slogan, tapi jadi kekuatan nyata.
Artinya, Indonesia nggak cuma jadi “pengguna jalur”, tapi juga punya daya tawar. Kalau Selat Hormuz punya pengaruh besar, Selat Malaka juga nggak kalah penting. Justru Indonesia bisa memanfaatkan posisi ini untuk memperkuat diplomasi dan ekonomi, tanpa harus bergantung pada satu negara.
Intinya, daripada ikut terbawa emosi atau provokasi, lebih baik Indonesia fokus ke kepentingannya sendiri: jaga stabilitas energi, cari alternatif, dan maksimalkan posisi strategis sebagai negara maritim. Jadi bukan ikut terseret konflik, tapi justru jadi pemain yang menentukan arah.
Semoga saja isu yang mencoba mengadu Indonesia dan Iran ini cepat reda, sebelum makin melebar ke mana-mana.
berry kurniawan – Ketua Umum Barisan Muda Al-ittihadiyah




Leave a Reply