Jakarta – Barisan Muda Al-Ittihadiyah menyambut baik langkah pemerintah melalui Kementerian Agama dan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) yang tengah menyusun materi edukasi mengenai pencegahan penyebaran budaya LGBT dalam kurikulum pendidikan sebagai tindak lanjut Peraturan Presiden Nomor 111 Tahun 2025.
Ketua Umum Barisan Muda Al-Ittihadiyah, Berry Kurniawan, menilai bahwa pendidikan bukan hanya bertugas mencerdaskan kehidupan bangsa, tetapi juga membentuk karakter, moral, dan akhlak generasi muda sesuai dengan nilai-nilai Pancasila, ajaran agama, dan budaya luhur bangsa Indonesia.
“Sekolah harus menjadi ruang yang tidak hanya mengembangkan ilmu pengetahuan, tetapi juga memperkuat karakter peserta didik. Pendidikan karakter merupakan investasi jangka panjang dalam membangun generasi Indonesia yang berintegritas, berakhlak mulia, dan memiliki ketahanan moral menghadapi berbagai tantangan zaman,” ujar Berry Kurniawan.
Menurutnya, fenomena perubahan sosial yang terjadi akibat derasnya arus globalisasi dan perkembangan media digital memerlukan langkah antisipatif melalui pendidikan yang komprehensif, melibatkan keluarga, sekolah, masyarakat, organisasi keagamaan, hingga pemerintah.
Barisan Muda Al-Ittihadiyah memandang bahwa kebijakan pemerintah tersebut perlu mendapat dukungan luas dari seluruh elemen bangsa. Namun demikian, kebijakan ini tidak cukup hanya dituangkan dalam bentuk kurikulum atau kebijakan lintas kementerian, melainkan perlu diperkuat melalui regulasi yang memiliki kepastian hukum.
“Kami mendorong pemerintah bersama DPR RI agar mengkaji penyusunan regulasi atau penyempurnaan peraturan perundang-undangan yang memberikan landasan hukum yang kuat bagi pendidikan karakter dan perlindungan generasi muda. Dengan demikian, implementasinya memiliki kepastian hukum, berkelanjutan, dan dapat dijalankan secara konsisten di seluruh Indonesia,” tegas Berry.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa pendekatan yang dikedepankan harus bersifat edukatif, preventif, dan pembinaan, bukan sekadar pendekatan yang menimbulkan stigma terhadap individu. Menurutnya, setiap warga negara memiliki martabat yang harus dihormati, sementara negara berkewajiban menjalankan kebijakan sesuai konstitusi dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Barisan Muda Al-Ittihadiyah juga mengajak seluruh komponen bangsa untuk bersama-sama memperkuat ketahanan keluarga, pendidikan karakter di sekolah, literasi digital, serta pembinaan generasi muda agar mampu menghadapi berbagai pengaruh negatif yang berkembang di era global.
“Membangun Indonesia Emas 2045 bukan hanya soal pembangunan ekonomi dan teknologi, tetapi juga membangun manusia Indonesia yang berkarakter, berakhlak, cinta tanah air, serta memiliki ketahanan moral yang kuat. Inilah investasi terbesar bangsa untuk masa depan,” tutup Berry Kurniawan.




Leave a Reply