Oleh Berry Kurniawan
Selamat dan sukses untuk Bapak Menteri Pertanian Amran sulaiman mendapat penghargaan Most Popular Leader Awards 2026 dari The Iconomics dalam rangkaian CEO Forum & Indonesia Best CEO Awards 2026 yang digelar di Gedung Sapta Pesona, Kamis (23/4/2026). atas berbagai penghargaan dan apresiasi gerakan swasembada pangan. Saya tentu ikut bangga melihat kerja dan perhatian terhadap sektor pertanian Indonesia.
Namun kali ini saya tidak ingin bercerita tentang Bapak Amran dengan segala penghargaan yang telah beliau raih. Saya justru ingin bercerita tentang sesuatu yang sederhana, dekat dengan kehidupan masyarakat, tetapi menurut saya memiliki masa depan yang besar bagi Indonesia, yaitu perjuangan mengembangkan ternak lokal, khususnya ayam kampung asli Indonesia.
Ketika berbicara tentang peternakan lokal, perhatian kita sering tertuju pada sapi, kambing, atau komoditas ternak besar lainnya. Padahal ayam kampung juga mempunyai potensi ekonomi yang sangat besar. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa dengan pola pemeliharaan yang baik, ayam kampung dapat mencapai bobot sekitar 0,7–0,85 kilogram pada umur 50–60 hari pada umumnya, bahkan dapat mencapai sekitar 1,2–1,3 kilogram pada umur 12 minggu. Artinya, ayam kampung sebenarnya bukan sekadar ternak rumahan, tetapi bisa dikembangkan menjadi bagian dari industri peternakan rakyat yang modern dan berkelanjutan.
Saya pernah berjalan bersama Bapak Anang, owner Ayam Kampung Prima, dan Citadesa Foundation dalam sebuah gagasan yang menurut saya sangat penting: bagaimana kita membangun ayam kampung nasional, memperkuat genetik lokal, memperluas pasar, dan pada akhirnya membuat peternak lokal Indonesia ikut menikmati nilai ekonominya. Bapak Anang mempunyai keyakinan besar bahwa ayam kampung lokal dapat dikembangkan melalui penelitian dan seleksi genetik sehingga mempunyai pertumbuhan yang lebih baik dan dapat dipanen dalam waktu sekitar 40 hari. Bagi saya, yang menarik bukan hanya soal angka 40 harinya, tetapi semangat beliau untuk membuktikan bahwa genetik lokal Indonesia juga bisa dikembangkan dengan penelitian dan teknologi.
Perjalanan Bapak Anang tidak mudah. Beliau mengalami jatuh bangun dalam membangun usaha dan mengembangkan hasil penelitiannya yang dimana beliau berlatang belakang IPB. Bahkan dalam cerita yang pernah kami dengar dari beliau, hasil pengembangan genetik tersebut sempat mendapat perhatian dari pihak Malaysia dan disebut ada ketertarikan untuk membeli hak patennya dengan nilai miliaran rupiah. Bagi saya, terlepas dari bagaimana akhirnya perjalanan itu, cerita tersebut menunjukkan satu hal penting: jangan sampai sesuatu yang lahir dari pengetahuan dan kerja keras anak bangsa justru lebih dahulu dihargai oleh negara lain daripada oleh negeri sendiri.
Di penghujung perjalanan hidupnya, kami bersama Citadesa Foundation mencoba memberikan dukungan dengan pendekatan vertical farming dan pemberdayaan masyarakat. Gagasannya bukan sekadar membesarkan ayam, tetapi bagaimana sebuah teknologi dan genetik unggul bisa diterapkan menjadi model usaha yang melibatkan masyarakat. Kami ingin melihat peternakan ayam kampung tidak lagi dipandang sebagai pekerjaan sampingan, tetapi sebagai usaha yang mempunyai manajemen, teknologi, pasar, dan masa depan yang jelas.
Tetapi perjuangan membangun sesuatu memang tidak pernah mudah. Ada persoalan modal, produksi, pemasaran, sumber daya manusia, konsistensi kualitas, hingga bagaimana membangun pasar yang mampu menyerap hasil peternak secara berkelanjutan. Di tengah perjalanan tersebut, kondisi kesehatan Bapak Anang semakin menurun. Dan pada tahun 2024, beliau berpulang. Kepergian beliau tentu meninggalkan kehilangan yang dalam bagi kami yang pernah berjalan bersama dalam perjuangan tersebut.
Namun saya percaya, orang boleh pergi, tetapi gagasan yang baik tidak seharusnya ikut mati. Justru sekarang pertanyaannya adalah siapa yang mau melanjutkan. Siapa yang mau membangun pasar ayam kampung nasional. Siapa yang mau memperkuat peternak kecil. Siapa yang mau mengembangkan genetik lokal Indonesia dengan penelitian yang serius. Dan siapa yang mau memastikan bahwa ketika ayam kampung Indonesia menjadi bisnis besar, peternak rakyat tidak hanya menjadi penonton.
Saya berharap pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, komunitas, dan para pelaku peternakan dapat duduk bersama membangun ekosistem ayam kampung nasional. Kita membutuhkan pembibitan yang baik, pengembangan genetik yang terukur, pakan yang efisien, teknologi budidaya, standar kualitas, akses pembiayaan, pengolahan, serta yang paling penting adalah pasar yang pasti bagi peternak. Karena sehebat apa pun teknologi dan genetik yang kita miliki, tanpa pasar yang kuat, peternak akan tetap kesulitan berkembang.
Saya juga berharap perjuangan terhadap ternak lokal Indonesia tidak berhenti pada slogan “bangga produk lokal.” Kebanggaan harus diwujudkan dengan membeli, menggunakan, mengembangkan, melakukan riset, membangun industri, dan memberikan ruang bagi peternak lokal untuk tumbuh. Kalau kita mampu membangun industri ayam kampung nasional dari hulu sampai hilir, manfaatnya bukan hanya bagi pengusaha, tetapi juga bagi masyarakat desa, peternak kecil, anak muda, dan ketahanan pangan Indonesia.
Mungkin inilah bagian kecil dari perjuangan yang pernah kami jalani bersama Bapak Anang. Tidak sempurna, banyak kekurangan, dan belum selesai. Tetapi saya tetap percaya bahwa perjuangan itu layak diteruskan. Semoga ada orang-orang baik yang mau mengambil tongkat estafet ini dan menjadikan ayam kampung lokal Indonesia sebagai kekuatan ekonomi peternakan nasional.
Untuk Bapak Anang, terima kasih pernah mengajarkan kepada kami bahwa membangun sesuatu tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar. Kadang dimulai dari kandang sederhana, dari penelitian yang dilakukan bertahun-tahun, dari keyakinan bahwa genetik lokal kita mempunyai masa depan, dan dari keberanian untuk terus mencoba meskipun berkali-kali jatuh.
Semoga perjuangan Bapak Anang tidak berhenti di tahun 2024. Semoga gagasannya terus hidup, berkembang, dan suatu hari benar-benar menjadi bagian dari lahirnya pasar ayam kampung nasional yang kuat serta menyejahterakan peternak Indonesia.
Karena bagi saya, membangun Indonesia bukan hanya tentang mengimpor teknologi dari luar. Kita juga harus berani menemukan, mengembangkan, dan membesarkan kekuatan yang sudah ada di negeri sendiri.











Leave a Reply